Batu Penyedot Ikan di Sungai Pemberian Mbah Muhammadun Pondowan Pati

{[["☆","★"]]}

Batu Penyedot Ikan di Sungai Pemberian Mbah Muhammadun Pondowan Pati


Simbah KH. Muhammadun Allahu Yarham adalah seorang kiai alim yang juga memiliki banyak karomah. Beliau sosok kiai yang sangat istiqomah dalam mengemban amanah. 

Keistiqomahan Mbah Madun (panggilan akrab KH Muhammadun) sampai saat ini diamalkan oleh para santri beliau. Utamanya para putra beliau termasuk KH. M. Aniq Muhaamadun (Pengasuh PP. Mambaul Ulum Pakis Tayu Pati).

Kisah yang akan penulis sampaiakan ini bersanad langsung dari santri beliau (Mbah Madun) yang bernama K. Muhammad Syafi'i Kawa'an Cendono (Allahu Yarham). 

Ketika Kiai Syafi'i masih sehat dan mengajar di MA NU Miftahul Cendono pernah suatu waktu beliau cerita tentang karomah Mbah Muhammadun Pondowan. 

Kiai Syafi'i yang ketika nyantri di Ponpes Darul Ulum Pondowan asuhan Mbah Muhammadun adalah seorang santri ndalem. 

Sebagai santri ndalem beliau bertugas menyiapkan segala kebutuhan Sang Kiai. Meski kadang mbah Madun sendiri enggan dibantu oleh para santri, tapi karena Kiai Syafi'i tahu keberkahan khidmah pada guru, beliau selalu patuh dan tunduk atas semua dawuh-dawuh Mbah Madun. 

Suatu waktu, pada tengah malam Mbah Madun kedatangan tamu dari jauh. Antara Pekalongan atau Cirebon. Kiai Syafi'i yang saat itu masih terjaga dan belum tidur segera dipanggil oleh Mbah Madun. 

"Kang ning dapur ono opo? Aku ketekan tamu songko adoh. Tolong siapno daharan. Iwak e golek'o neng kali," dawuh Mbah Madun. 

Kiai Syafi'i langsung saja bergegas ke sungai untuk mencari ikan. Sambil membawa lampu petromax dan karung untuk menangkap ikan. Kisi Syafi'i melangkah dengan mantap. 

Sampai di sungai tujuan, Kiai Syafi'i berusaha sekuat tenaga untuk mencari dan menangkap ikan. Meski udara dingin dan pencahayaan yang terbatas. 

Lama waktu terlewat ternyata tak satupun ikan masuk dalam karungnya. Kiai Syafi'i yang ditugasi Mbah Madun masih saja berusaha menangkap ikan. 

Karena waktu yang sudah lama sekali dan kiai Syafi'i belum juga ke Pondok  akhirnya mbah Madun menyusul ke sungai tempat mencari ikan tadi. 

Sampai di sungai Mbah Madun bertanya ke Kiai Syafi'i. "Wes oleh iwak e kang?". Dengan nada takut Kiai Syafi'i menjawab, "dereng Mbah. 

Mendengar jawaban tersebut Mbah Madun merasa kasihan kepada santri dalemnya itu.  Kemudua Mbah Madun berkata. "Mrene kang, iki lo watu lebokke karungmu".

Kiai Syafi'i bergegas naik ke pinggir sungai menerima batu dari tangan Mbah Madun. Tak ada yang istimewa, hanya sebuah batu biasa. Namun ketika batu yang diberikan Mbah Madun dimasukkan ke dalam karung, hal aneh terjadi. 

Ketika Kiai Syafi'i kembali ke sungai dengan membawa karung yang berisi batu dari Mbah Madun untuk menangkap ikan, tiba-tiba semua ikan mendekat ke karung. 

Seperti medan magnet yang menarik besi, batu mbah madun yang ada di karung bisa menyedot ikan yang ada di sungai. Puluhan ikan-ikan dengan mudah dimasukkan oleh Kiai Syafi'i ke dalam karung. Setelah dirasa cukup akhirnya beliau kembali ke Pondok untuk menyiapkan daharan bagi tamu Mbah Madun. 

Demikianlah sekelumit cerita karomah Mbah Madun. Kita sebagai warga Nahdliyyin wajib percaya bahwa para wali memang memiliki karomah. Sesuai dengan yang disampaikan Imam Albaijuri dalam kitab Jauharotut Tauhid

واثبتن للاوليا الكرامة # ومن نفاها فانبذن كلامه 


Penulis: Abdullah Yusuf

Alumni MA NU Miftahul Falah Cendono dan alumni Ponpes Mambaul Ulum Pakis Tayu Pati. 

Posting Komentar

0 Komentar