Di balik Banjir dan Longsor : Ancaman Sunyi dari Kerusakan Lingkungan

{[["☆","★"]]}

 

Bencana alam kerap dipersepsikan sebagai peristiwa fisik semata—gempa yang mengguncang, banjir yang meluap, atau letusan gunung yang memuntahkan material panas. Di balik gejala kasat mata tersebut tersimpan rangkaian proses kimia yang bekerja secara senyap namun menentukan. Ketika keseimbangan alam terganggu, reaksi kimia yang semula stabil berubah arah menghasilkan dampak lanjutan yang kerap memperparah penderitaan manusia dan lingkungan.

Banjir dan tanah longsor bukanlah sekadar peristiwa alam yang hadir tanpa sebab, melainkan penanda bahwa keseimbangan sistem bumi telah terganggu hingga ke tingkat yang paling mendasar. Ketika hujan yang seharusnya menjadi berkah berubah menjadi ancaman, dan tanah yang semestinya menopang kehidupan justru runtuh menelan ruang hidup manusia, tersingkaplah rangkaian proses kimia yang bekerja di balik kehancuran tersebut. Dalam diam, hukum-hukum kimia mencatat setiap pelanggaran manusia terhadap harmoni alam.

Dalam peristiwa banjir, limpasan air tidak hanya membawa material padat, tetapi juga senyawa kimia berbahaya. Limbah rumah tangga, residu pupuk, pestisida, serta logam berat dari aktivitas industri yang terlarut dalam air membentuk campuran toksik yang mencemari tanah serta sumber air bersih. Dari sudut pandang kimia lingkungan, kondisi ini memicu perubahan pH, peningkatan Biological Oxygen Demand (BOD), serta menurunnya kadar oksigen terlarut. Akibatnya, ekosistem perairan kehilangan kemampuan alaminya untuk memulihkan diri dan rantai kehidupan terputus secara perlahan.

Tanah longsor pun menyimpan dimensi kimia yang kerap luput dari perhatian. Hilangnya vegetasi penahan tanah menyebabkan berkurangnya senyawa organik yang berperan sebagai perekat alami partikel tanah. Struktur tanah menjadi rapuh, daya ikat antarpartikel melemah, dan kestabilan kimia-mineralnya terganggu. Ketika hujan meresap, air bereaksi dengan mineral tertentu, mempercepat proses pelapukan dan mengurangi kohesi tanah. Dalam kondisi ini, longsor bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan yang menunggu momentum.

Lebih jauh, material hasil longsoran yang terbawa ke sungai dan pemukiman menciptakan pencemaran lanjutan. Endapan lumpur kaya mineral besi, mangan, atau senyawa sulfida dapat bereaksi dengan air dan oksigen menghasilkan senyawa berbahaya yang merusak kualitas air. Rantai reaksi ini memperpanjang dampak bencana, menjadikan banjir dan longsor sebagai peristiwa berlapis yang efeknya bertahan jauh setelah hujan reda.

Pengelolaan tanah berbasis kimia lingkungan, seperti peningkatan kandungan bahan organik dan pengaturan pH tanah, dapat memperkuat struktur tanah dan mengurangi risiko longsor. Dalam konteks banjir, teknologi penjernihan air menggunakan adsorben seperti karbon aktif, zeolit, dan biofilter mampu menurunkan kadar zat berbahaya pascabencana. Pemantauan kualitas air dan tanah secara kimiawi juga menjadi alat penting untuk mitigasi dini sebelum kerusakan meluas.

Pada akhirnya, bencana alam dalam tinjauan kimia mengajarkan satu pelajaran mendasar, setiap pelanggaran terhadap keseimbangan semesta akan direspons melalui hukum-hukum reaksi yang tak mengenal kompromi. Solusi sejati tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi pada kesadaran manusia untuk bertindak selaras dengan prinsip keberlanjutan. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan etika lingkungan, barulah manusia memiliki peluang untuk meredam amarah alam dan menjaga warisan kehidupan bagi generasi yang akan datang.

 

Penulis:

Aulia Himmatus Suroyya, S. Pd.

(Guru Kimia MA NU Miftahul Falah)

Posting Komentar

0 Komentar