Bencana alam kerap dipersepsikan sebagai
peristiwa fisik semata—gempa yang mengguncang, banjir yang meluap, atau letusan
gunung yang memuntahkan material panas. Di balik gejala kasat mata tersebut
tersimpan rangkaian proses kimia yang bekerja secara senyap namun menentukan. Ketika keseimbangan alam terganggu, reaksi kimia yang semula stabil
berubah arah menghasilkan dampak lanjutan yang kerap memperparah penderitaan
manusia dan lingkungan.
Banjir dan tanah longsor bukanlah sekadar peristiwa alam yang hadir
tanpa sebab, melainkan penanda bahwa keseimbangan sistem bumi telah terganggu
hingga ke tingkat yang paling mendasar. Ketika hujan yang seharusnya menjadi
berkah berubah menjadi ancaman, dan tanah yang semestinya menopang kehidupan
justru runtuh menelan ruang hidup manusia, tersingkaplah rangkaian proses kimia
yang bekerja di balik kehancuran tersebut. Dalam diam, hukum-hukum kimia
mencatat setiap pelanggaran manusia terhadap harmoni alam.
Dalam peristiwa banjir, limpasan air tidak hanya membawa material
padat, tetapi juga senyawa kimia berbahaya. Limbah rumah tangga, residu pupuk,
pestisida, serta logam berat dari aktivitas industri yang terlarut dalam air
membentuk campuran toksik yang mencemari tanah serta sumber air bersih. Dari
sudut pandang kimia lingkungan, kondisi ini memicu perubahan pH, peningkatan Biological
Oxygen Demand (BOD), serta menurunnya kadar oksigen terlarut. Akibatnya,
ekosistem perairan kehilangan kemampuan alaminya untuk memulihkan diri dan
rantai kehidupan terputus secara perlahan.
Tanah longsor pun menyimpan dimensi kimia yang kerap luput dari
perhatian. Hilangnya vegetasi penahan tanah menyebabkan berkurangnya senyawa
organik yang berperan sebagai perekat alami partikel tanah. Struktur tanah
menjadi rapuh, daya ikat antarpartikel melemah, dan kestabilan kimia-mineralnya
terganggu. Ketika hujan meresap, air bereaksi dengan mineral tertentu,
mempercepat proses pelapukan dan mengurangi kohesi tanah. Dalam kondisi ini,
longsor bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan yang menunggu momentum.
Lebih jauh, material hasil longsoran yang terbawa ke sungai dan
pemukiman menciptakan pencemaran lanjutan. Endapan lumpur kaya mineral besi,
mangan, atau senyawa sulfida dapat bereaksi dengan air dan oksigen menghasilkan
senyawa berbahaya yang merusak kualitas air. Rantai reaksi ini memperpanjang
dampak bencana, menjadikan banjir dan longsor sebagai peristiwa berlapis yang
efeknya bertahan jauh setelah hujan reda.
Pengelolaan tanah berbasis kimia lingkungan, seperti peningkatan
kandungan bahan organik dan pengaturan pH tanah, dapat memperkuat struktur
tanah dan mengurangi risiko longsor. Dalam konteks banjir, teknologi
penjernihan air menggunakan adsorben seperti karbon aktif, zeolit, dan
biofilter mampu menurunkan kadar zat berbahaya pascabencana. Pemantauan
kualitas air dan tanah secara kimiawi juga menjadi alat penting untuk mitigasi
dini sebelum kerusakan meluas.
Pada akhirnya, bencana alam dalam tinjauan kimia mengajarkan satu
pelajaran mendasar, setiap pelanggaran terhadap keseimbangan semesta akan
direspons melalui hukum-hukum reaksi yang tak mengenal kompromi. Solusi sejati
tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi pada kesadaran manusia untuk
bertindak selaras dengan prinsip keberlanjutan. Ketika ilmu pengetahuan
dipadukan dengan etika lingkungan, barulah manusia memiliki peluang untuk
meredam amarah alam dan menjaga warisan kehidupan bagi generasi yang akan
datang.
Penulis:
Aulia Himmatus Suroyya, S. Pd.
(Guru Kimia MA NU Miftahul Falah)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
0 Komentar