Kudus, manu-miffa.sch.id – Pelaksanaan Mini Expo Pendidikan MA NU Miftahul Falah tahun ini
terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain pameran pendidikan,
madrasah juga menghadirkan seminar motivasi dengan dua narasumber inspiratif,
yakni K.H. Ahmad Bahruddin, S.Pd.I., M.Pd., Pengasuh Pondok Pesantren Tasywiqul
Furqon Kudus, serta Ferdy Arif Saputra, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM)
yang juga alumni MA NU Miftahul Falah.
Kegiatan seminar motivasi tersebut dipandu oleh
moderator Una Lailis Tsani, S.Pd. dan Ahmad Habib Abdu’i, S.Pd. Seminar ini
bertujuan membekali siswa tidak hanya dengan informasi pendidikan, tetapi juga
dengan mental, motivasi, dan visi perjuangan setelah kelulusan.
Acara diawali dengan pembacaan tahlil dan doa yang
dipimpin oleh Abdullah Yusuf, kemudian dilanjutkan sambutan Kepala Madrasah,
Moh. Ali Nuhin. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya keseimbangan
antara iman dan ilmu. “Konsep Islam tentang ilmu sudah jelas bahwa iman dan
ilmu merupakan dua pilar utama. Iman tanpa ilmu kurang sempurna, sedangkan ilmu
tanpa iman akan menimbulkan kerusakan.”
Lebih lanjut Moh. Ali Nuhin mengingatkan para siswa
bahwa menuntut ilmu tidak memiliki batas waktu, sebagaimana ungkapan minal
lahdi ilal lahdi, sehingga tidak boleh berhenti hanya sampai di MA NU Miftahul
Falah, melainkan harus terus dilanjutkan baik di perguruan tinggi maupun di
pondok pesantren.
Pada sesi materi, K.H. Ahmad Bahruddin, S. Pd. I., M.
Pd. menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjuangan. “Kelulusan itu
bukan garis akhir, tetapi starting line untuk melanjutkan perjuangan di
jenjang kehidupan berikutnya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dunia saat ini membutuhkan solusi
nyata, bukan sekadar nilai rapor. Menurutnya, santri memiliki keunggulan berupa
ketangguhan mental serta barokah dari para kiai yang menjadi modal penting
dalam menghadapi tantangan zaman. Ia juga mengingatkan agar alumni tidak
menjadi pribadi yang pasif dan terus bergerak serta berkontribusi di tengah
masyarakat.
Sementara itu, narasumber kedua, Ferdy Arif Saputra,
membagikan pengalamannya sebagai alumni MA NU Miftahul Falah yang kini menempuh
pendidikan di UGM.
“Saya sebagai santri dari MA NU Miftahul Falah ternyata bisa masuk
perguruan tinggi negeri ternama. UGM, UI, ITB itu bukan hanya milik siswa SMA
negeri, tapi kita juga berhak dan bisa masuk ke sana asalkan mau berusaha,”
ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengamalkan nilai-nilai
yang diperoleh selama di madrasah, seperti tawassul, ikhtiar, dan doa.
“Setiap langkah saya di UGM selalu saya sertai doa. Semakin naik
semester, tantangannya semakin berat, jadi usaha saja tidak cukup tanpa doa,”
ujarnya.
Menutup penyampaiannya, Ferdy memberikan motivasi kepada para siswa agar tetap optimistis dan berani bermimpi besar.
“Jangan pesimis. Ayo MA NU Miftahul Falah go nasional. Lokal itu
penting, tapi jangan berhenti di situ. Kita juga harus berani melangkah ke
tingkat nasional bahkan internasional,” pesannya.
Pesan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi
peserta. Ulia Rahma Fitriani, siswi kelas XII-A, mengaku seminar tersebut
sangat membangkitkan semangatnya.
“Seminarnya
seru sekali, dapat ilmu dan motivasi yang luar biasa. Cerita pengalaman
narasumber benar-benar membuka pikiranku yang sempat bingung menentukan langkah
setelah lulus,” ujarnya.
Ia juga mengingat pesan Ferdy yang membekas di benaknya, yakni,“Urusan malu
nanti, yang penting berani.”
Melalui seminar motivasi ini, MA NU Miftahul Falah berharap para
siswa kelas XII memiliki kepercayaan diri, semangat juang, serta kesiapan
mental dalam menapaki jenjang kehidupan berikutnya.
Reporter
Shaluna Siva Rahmadani
(Siswa kelas XIC MA NU Miftahul Falah)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
0 Komentar