KUDUS, manu-miffa.sch.id – Pameran dan Kontes Bonsai yang digelar di Balai Jagong, Kelurahan Wergu Wetan, pada (25–28/10/25), menjadi magnet bagi para pecinta seni alam. Ratusan bonsai dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Pulau Jawa hingga Kalimantan, dipamerkan, menampilkan kekayaan budaya dan keindahan seni bonsai nusantara.
Bonsai, seni mengerdilkan pohon dalam pot dangkal agar menyerupai pohon besar di alam bebas, telah lama dikenal sebagai simbol keseimbangan, kesabaran, dan harmonisasi antara manusia dan alam. Salah satu bonsai yang dipamerkan bahkan menarik perhatian karena memiliki nilai jual mencapai Rp200 juta, berkat keunikan batang, karakter bentuk, serta usia pohon yang tergolong tua.
“Bonsai ini seolah membawa kita berada di bawah rindangnya pohon besar. Nilainya semakin tinggi seiring bertambahnya umur dan karakter pohon,” ujar Ketua Komunitas Bonsai Kudus, Gesang Lintang Gumelar.
Lebih dari sekadar kontes, pameran ini juga menjadi wadah pengembangan bagi petani dan perajin bonsai di Kudus agar semakin berdaya saing. Gesang menjelaskan, masyarakat perlu mengenal jenis-jenis bonsai yang populer seperti anting putri, sancang, waru India, dan waru Thailand.
“Tidak semua tanaman bisa dijadikan bonsai, jadi perlu pengetahuan dan ketelatenan. Melalui pameran ini kami ingin memperluas wawasan masyarakat,” imbuhnya.
Komunitas bonsai lokal membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin berpartisipasi. “Siapa saja boleh ikut, asalkan punya bonsai,” tegas Gesang.
Antusiasme pengunjung terlihat tinggi. Selain menikmati keindahan setiap karya, banyak pengunjung memanfaatkan kesempatan untuk membeli bonsai koleksi.
Tulisan ini hasil praktik liputan peserta jurnalistik MA NU Miftahul Falah.
(Kelompok II)
1. Aqiilatun Nisfa
2. Adiba Ulya Kamalia
3. Arina Himmatul Ulya
4. Noor A’isyah Zahra
5. Naura Alya Ardinaranti

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
0 Komentar