Toleransi Tanpa Basa-basi

{[["☆","★"]]}

Toleransi Tanpa Basa-basi

Toleransi terhadap perbedaan harus diwujudkan sebagai tindakan nyata yang mendarah daging, bukan sekadar slogan, formalitas, atau pemanis bibir belaka (gambar: ilustrasi gemini).


Oleh: Kamaliya Alfiyyaturrohmah

Menurut saya toleransi adalah suatu sikap yang harus tertanam pada diri setiap manusia, apalagi mengingat banyaknya perbedaan keyakinan di Indonesia. 

Bahkan kita sudah diajarkan bertoleransi dari kecil. Sayangnya masih banyak orang yang mengaku bahwa mereka menjunjung tinggi rasa toleransi tapi nyatanya mereka juga yang berteriak paling keras saat ada orang lain yang menurutnya tak sesuai dengan apa yang diajarkan agamanya.

Banyak pelajaran tentang toleransi dan tentang kerukunan yang saya dapat setelah menjalani hidup selama 16 tahun. 

Saya adalah tipikal orang yang suka menjalin hubungan pertemanan, apalagi berteman dengan orang yang saya temui di ketidaksengajaan. 

Misalnya seperti teman jarak jauh saya yang berbeda-beda agamanya, saya mengenal mereka karena saya bergabung pada salah satu fandom K-pop yang di sebut Teume. 

Awalnya saya hanya bergabung di beberapa grup order untuk membeli merchandise atau photocard K-pop, tapi ternyata beberapa orang yang berkenalan dengan saya lewat sosmed dari lingkup tersebut sekarang malah menjadi orang terdekat saya, bahkan tempat mengadu paling aman sepanjang hidup saya. 

Walaupun saya belum pernah bertemu secara langsung karena dibatasi oleh jarak dan waktu, tapi kasih sayang dan kehangatan mereka terasa nyata untuk saya.

Tak hanya itu saja, kemarin tanggal (23/8/2026) bertepatan hari Ahad saya mengunjungi SSA milik Djarum untuk menonton pertandingan sepakbola Jordan vs Malaysia yang memperebutkan juara ke-3 di ajang Internasional. 

Kebetulan pertandingan tersebut dimulai dari sore hingga petang hari. Sebelum berangkat ibu daya menanyakan hal yang sempat terlintas di benak saya, “bagaimana nanti sholat Asharnya?” 

Mengingat bahwa yang memiliki PT. Djarum adalah non muslim, jadi saya pikir tidak disediakan masjid di dalam tempat itu. 

Tapi ternyata disediakan mushola kecil yang terletak di luar bagian selatan gedung, bahkan ada mukena yang tertata rapi di loker musholanya.

Lalu kalian pasti tidak asing dengan kata ‘Free Palestine.’ Perlu diingat bahwa yang menyuarakan kalimat tersebut bukan hanya dari kalangan kaum muslim saja, namun semua orang dari berbagai agama turut serta menyuarakan kebebasan bagimasyarakat negara Palestina. 

Padahal negara tersebut mayoritas beragama Islam, tapi semua orang mengetahui bahwa genosida yang terjadi bukan lagi tentang agama, tapi tentang rasa kemanusiaan. 

Saya tidak tahu bagaimana kabar tentang negara Palestina setelah gonjang-ganjing dunia di awal tahun ini, kabar-kabar dari jurnalis seperti lenyap ditelan waktu sampai tak menyisakan riak dan jejak.

Orang-orang mulai sibuk dan fokus dengan urusan pribadinya lagi, namun saya yakin di belahan bumi lain pasti ada yang masih menyuarakan kebebasan untuk negara Palestina. 

Doa yang terbaik selalu menyertai mereka, Aamiin.

Hal ini menunjukkan bahwa toleransi terhadap perbedaan harus diwujudkan sebagai tindakan nyata yang mendarah daging, bukan sekadar slogan, formalitas, atau pemanis bibir belaka. 

Mari kita ciptakan lingkungan yang nyaman dan tentram tengan cara bertoleransi tanpa basa-basi.



Posting Komentar

0 Komentar